Pendidikan atau Pendudukan?

  • PDF

wahyu3

Bagaimana wajah pendidikan sekarang? Apakah masih seputih semenjak dilahirkan, atau sudah kusam termakan senjanya kompetisi keilmuan yang begitu rentah. Beberapa serta berbagai macam ‘kosmetik’ untuk mendapatkan keindahan, kecerahan serta percaya diri wajah justru berubah terbalik lalu berefek kepada sebuah ‘iritasi’ dalam bentuk keanjlokan. Berbagai sumber menyatakan bahwa pendidikan di negeri ini telah memasuki gawat darurat (Anis Baswedan-Menteri Pendidikan dan Kebudayaan). "Pendidikan Indonesia sedang dalam gawat darurat. Fakta-fakta ini adalah sebuah kegentingan yang harus segera diubah," ujar Anies, dalam pemaparan materi di hadapan kepala dinas pendidikan provinsi, kabupaten/kota se-Indonesia, di Kemendikbud, Senin (1/12/2014).

Ada enam poin yang menjadi data penting penarikan kesimpulan terhadap situasi pendidikan di Indonesia saat ini, namun saya tertarik pada poin terakhir yang mengatakan bahwa “Indonesia menjadi peringkat 103 dunia, negara yang dunia pendidikannya diwarnai aksi suap-menyuap dan pungutan liar. Selain itu, Anies mengatakan, dalam dua bulan terakhir, yaitu pada Oktober hingga November, angka kekerasan yang melibatkan siswa di dalam dan luar sekolah di Indonesia mencapai 230 kasus”. –Sumber; Kemendikbud.

Begitu sulit rasanya kita menerima fakta di atas, sebagai salah satu lakon yang berperan dalam menjalankan pendidikan negeri ini, saya sungguh tidak percaya dan sedikit melihat ke ranah Internasional. Saya meyakini bahwa mereka (masyarakat Internasional) mengakui bahwa pendidikan di Negara Indonesia merupakan salah satu yang terburuk, dan yang terendah dalam klausul secara Internasional (coba melihat system pendidikan di Finlandia). Pendidikan menjadi sebuah tanggunjawab besar pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta jajaran yang di bawahinya. Namun, yang terjadi justru terdapat beberapa kekeliruan dalam menjalani prosesnya, bahkan ada yang menyalahinya. Sebut saja mereka adalah oknum, dalam hal ini mafia pendidikan. Proses belajar-mengajar, entah itu sekolah atau kampus sering ditemukan hal yang berbenturan dengan hal yang dicanangkan pemerintah. Misalnya saja, dalam kasus pungutan liar (biasa ditemukan dalam dunia kampus, tak menutup kemungkinan sekolah pun). Pendidikan justru seolah-olah bukan menjadi wadah dalam membangun sebuah bangsa, tapi sebaliknya, memperburuk bahkan menghancurkan.

Sekelumit masalah di atas memang akrab ditemukan dalam pelbagai kegiatan kependidikan. Sadar ataupun tak sadar, kita dapat beroperasi sebagai yang diuntungkan atau dirugikan, dalam hal ini siswa-guru-birokrasi atau mahasiswa-dosen-birokrasi (dalam tatanan pendidikan formal). Sesuai dengan pergejolakan dunia pendidikan, yang dapat menjadi penyeimbang salah satunya; Pendidikan karakter. Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Bisa juga berarti cara berfikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas antar individu (Dikjed Mandikdasmen-Kementerian Pendidikan Nasional). Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.

Ada kalimat bijak yang sering berkumandang di telinga saya yang mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Artinya sama bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun pasti akan menabrak atau ditabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain (dalam hal ini yang menduduki). Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik.

Pendidikan atau Pendudukan; Pendidikan adalah alasan untuk menduduki sebuah wawasan secara kiasan. Perihal tentang kondisi Indonesia yang masih jauh dari yang namanya pemerataan, dan terkesan tak disamakan. Pendudukan yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah kesalahan wewenang. Dalam peningkatan secara lisan, tergolong ampuh buat menyelimuti objek yang ingin di didik, namun hasilnya jauh dari yang namanya ‘terdidik’, jauh melenceng dari realitas-tengok saja bagaimana para koruptor yang katanya berpendidikan tinggi justru bobrok hanya karena pemenuhan nafsu secara materi yang ingin di penuhi. Pendidikan dan pendudukan tidak hanya menjadi sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara (kesempatan dalam berkuasa), namun menjadi tiang penyangga nasib bangsa yang kapan saja lengah akan roboh di hantam oleh ketidakberesan.

*Pernah dimuat di Weekly Estetika Edisi Mei 2015 di hari Pendidikan Nasional

You are here: Home